Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Puisi Diri

 Part 2 “ Teriakan Melati pada Sang Mentari” Oleh : Laff   Sebuah mimpi buruk yang nyata Dunia ini berduka….. Renungan bagi kita semua Ratusan umat terpapar, ribuan kelingan nyawa Tangis sang mentari meninggalkan jejak lebam pada si bunga   Hari ini sebuah teguran, bahwa esok adalah misteri Pada duri dingin, yang menacap jari kaki gadis Meneggelamkan luka hati pada para melati Pada air panas, yang mengguyur si perempuan ini Mengajukan amarah kepada sang mentari   Perempuan itu berlari, menangkap setetes jati diri Teriakannya mengubah rusuk hingga hulu hati sang mentari Ia meringis, bahwa jiwa nya harus diubah. Pada kewajiban hakiki ilahi Ia menangis, bahwa rasa nya harus dirombak. Pada pandangan nasionalis bangsa ini Ia mengangga, bahwa raga nya perlu digertakan. Pada solidaritas penduduk negeri   Wahai melati negerI ini. Kau bawa harapan sang mentari bumi Bawa wawasan besar mu, tuk mengubah pemikiran kondisi ini Bawa ...

Puisi Negeri

“Teriakan Melati pada Sang Negeri ” Oleh : Laff Sebuah mimpi buruk yang nyata Negeri ini dilanda….. Ratusan umat terpapar, ribuan kelingan nyawa Sang kaya makin berjaya…. Si miskin minjilat tanah tak berdaya   Hari ini bergetar, bahwa esok adalah misteri Duri dingin Pemimpin menyulam tangis Negeri... Berdarah-darah…Menenggelamkan luka hati hingga mati Kisah tragis Melati meninggalkan jejak lebam pada Bumi Pertiwi Bangsa kembali dijajah oleh kebijakan Negeri sendiri   Tuan nan Puan, Tujuh Puluh Enam Tahun Negeri ini Merdeka Teriakan Pejuang mengubah rusuk hingga hulu hati ditengah Pandemi Ia meringis, bahwa jiwa nya harus diubah. Pada kewajiban hakiki ilahi Ia menangis, bahwa rasa nya harus dirombak. Pada pandangan nasionalis bangsa ini Ia mengemis, bahwa raga nya perlu digertakan. Pada solidaritas Pemimipin Negeri   Wahai Melati Negeri ini. Kau bawa harapan bumi pertiwi Bawa wawasan besar mu, tuk tuntaskan kebijakan ini Bawa harta...

Puisi Diri

" Temen Sunyi" Oleh : Laff Pada teman malam... Sudi kah kau mendampingi kegelapan Sudi kah kau menetap pada kehancuran Sudi kau mengarungi hari dalam kesedihan Pada semilir malam selanjutnya Temani setiap langkah gontainya Rangkul dia di masa sulitnya Beri pelukan sedikit untuk jiwanya Hatinya yang terluka, ajak dia untuk bersama Kepada jiwa yang tak henti berjuang ku harap kau tak segera rapuh Kepada hati yang terus mencari ku harap kau tak segera berhenti  Sukoharjo, 19 September 2021

Puisi Diri

 "Batas Harap" Oleh : Laff Lebur sudah penantian ini bersama tenggelamnya sang mentari Habis sudah harapan mengikuti arah sang rembulan malam Terdengar batuan pesisir yang terus menjerit Menandakan ombak pasang yang tak henti menerpa Kembali pada harapan yang sempat sirna Di tempat yang sama ketika awal berjumpa  Jauh sudah harapan ini tertata Pada getiran doa yang tak henti terucap Pada bongkahan usaha yang terus berjalan Semakin lama semakin menganga, untuk waktu yang lama    Sukoharjo, 20 Agustus 2020

Puisi Dini

 "Setitik Pilu" Oleh : Laff Kembali disini.... Dibawah rembulan yang tak henti memancarkan kehangatan Semilir angin dan lagu dedaunan yang kian melupakan malam Ingatan kesedihan kembali menghampiri, lalu terbuang begitu saja Sembari ngalirkan pilu atas sebuah kegagalan Goresan luka kembali hadir pada hati Akan kesuksesan yang semakin tertunda Tancapan peluru yang terus menjatuhi jiwa ini Kian tertanam, terus tertutup tanah dalam Tuhan memang adil dalam mencipkan segala hal Begitu pula memberi luka pada setiap manusia Agar manusia terus berjuang mencari kebahagiaan Setitik pilu yang terus menghampiri, ku harap kau kan selalu menguatkan hati Sukoharjo, 19 Agustus 2020

Puisi Negeri

  "Harapan Tuan nan Puan" Oleh : Laff   Semakin hari semakin tak meyakinkan Semakin luntur untuk waktu yang lama Tinta saja bisa habis, isinya saja bisa berkurang Semakin menipis, hingga semakin hilang                           Para Tuan menunggu jawaban Para Puan menanti kepastian                         Dimana kalian wahai para pemuda Berani hidup tanpa melirik sejarah                         Sudahi atau..... Bangkit lagi….   Ribuan wiracarita terbakar ditengah derasnya hujan Tak sedikit kisah lalu terbuang sia sia Kau bilang terus peduli, tapi tak kau tepati Kau bermimpi tinggi, tapi kau ting...

Puisi Diri

"Sudahi atau Bangkit Lagi" Oleh : Laff Menanti bukan perihal pasti Menunggu belum tentu akan terganti Pada hati yang penuh cinta, kini hampa tak tersisa Pada raga yang penuh harap, kini mati tak berarti Sudahi atau bangkit lagi.... Sendiri lagi.... Dalam senyumnya terbesit garis letih Menuntun untuk terlihat tak sembunyi Hingga sabar kini tak mampu menjelaskan yang terjadi Berhenti atau berjuang lagi.... Bila rasa saja sudah tak lagi sama Berjalan sendiri bukan perkara ringan Ketika berteriak membakar hati tak lagi dihargai Tuhan...Doa iini akan selau terukir dalam setiap usapan hati. Sukoharjo, 04 Mei 2020

Puisi Dini

 "Sudah Hilang Peduli" Oleh : Laff Ribuan sajak terbakar ditengah derasnya hujan Tak sedikit kisah terukir lalu terbuang sia sia Diri semakin tak terima atas kenyataan Menjerit kencang meminta atas kepastian Apa daya raga, jika pikiran saja tak mampu memberi ruang Apa gunanya jiwa, bila pada rasa saja tak lagi memberi waktu Sudah pudar harga diri Sudah remuk hati ini Sudah usang kenangan ini Sudah lenyap itu diri atas perbuatan ini Bagi jalang yang mencari pertobatan ini Esok adalah sebuah misteri Apa yang sedang dicari, tak akan mampu diraih lagi Bila pada Tuhan saja masih buta dan tuli Tutup sudah penghidupan, atas semua, untuk selamanya, dan tak terganti Sukoharjo, 08 Mei 2020

Puisi Sunyi

  "Garis Lekuk Mentari" Oleh : Laff Sunyi itu...  Kala angin menghembus kulit tangan Cahaya mentari pun tak henti memberi kehangatan Ribuan harapan semakin hilang tanpa meninggalkan jejak Jauh menantang bayang bayang kegagalan Melirik kembali... Sunyi yang dulu memhampiri sedikit kian menepi sendiri Membiarkan keramaian untuk dapat mengerumuni Cahaya menampakkan jejaknya kali ini Dan meninggalkan garis lekuk yang memberi tepi Semakin panjang lalu semakin terukir harapan Mentari itu terlihat memberi kehangatan sesungguhnya Kemudian membiarkan hati dan jiwa membentuk senyuman Untuk waktu yang lama... Sukoharjo, 26 Agustus 2020